Senin, 04 Mei 2020

Akad Musyarakah

A. Pengertian Musyarakah
  • Bahasa: al-syirkah/al-ikhtilath (percampuran) atau persekutuan dua orang atau lebih, sehingga antara masing-masing sulit dibedakan atau tidak dapat dipisahkan.
  • Akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan porsi kontribusi dana.

B. Karakteristik Akad Musyarakah
  • Modal musyarakah dapat diberikan dalam bentuk kas, setara kas, atau aktiva non-kas, termasuk aktiva tidak berwujud seperti lisensi dan hak paten yang sesuai dengan syariah. 
  • Setiap mitra harus memberi kontribusi dalam modal dan pekerjaan.
  • Keuntungan atau pendapatan musyarakah dibagi di antara mitra musyarakah berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian musyarakah dibagi diantara mitra musyarakah secara proporsional berdasarkan modal yang disetorkan.
  • Keuntungan dibagi menggunakan nisbah yang disepakati dan menggunakan nilai realisasi keuntungan.
  • Jaminan modal. Dalam pembiayaan musyarakah setiap mitra tidak dapat menjamin modal mitra lainnya, namun setiap mitra dapat meminta mitra lainnya untuk menyediakan jaminan atas kelalaian atau kesalahan yang di sengaja.
  • Perjanjian. Untuk menghindari persengketaan dikemudian hari, sebaiknya akad kerjasama dibuat secara tertulis dan dihadiri para saksi. Akad atau perjanjian tersebut harus mencakup berbagai aspek antara lain terkait dengan besaran modal dan penggunaannya (tujuan usaha musyarakah), pembagian kerja diantara mitra, nisbah yang digunakan sebagai dasar pembagian laba, periode pembagian laba dan lain sebagainya.
  • Persengketaan. Apabila terjadi perselisihan diantara dua belah pihak maka dapat diselesaikan secara musyawarah diantara mereka berdua atau melalui badan arbitrase syari’ah.

    C. Hikmah akad musyarakah

    Dalam musyarakah dapat ditemukan nilai ajaran Islam tentang ta’awun (gotong royong), ukhuwah (persaudaraan) dan keadilan. Keadilan sangat terasa ketika penentuan nisbah untuk pembagian keuntungan yang bisa saja berbeda dari porsi modal karena disesuaikan oleh faktor lain selain modal misalnya keahlian, ketersediaan waktu dan sebagainya. Selain itu keuntungan yang dibagikan kepada pemilik modal merupakan keuntungan riil, bukan merupakan nilai nominal yang telah ditetapkan sebelumnya seperti bunga/riba. Prinsip keadilan juga terasa ketika hanya orang yang punya modal saja yang dapat dibebankan/menanggung resiko finansial.
    D. Sifat Musyarakah
    1. Musyarakah permanen. Dalam musyarakah permanen bagian modal setiap mitra ditentukan saat akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad. 
    2. Musyarakah menurun. Dalam musyarakah menurun, bagian modal salah satu mitra akan dialihkan secara bertahap kepada mitra lain, sehingga pada akhir akad mitra yang lain akan memiliki usaha tersebut secara penuh. 

    E. Jenis Musyarakah

    1. Syirkah Al Milk merupakan kepemilikan bersama dan keberadaannya muncul apabila dua orang atau lebih memperoleh kepemilikan bersama (joint ownership) atas suatu kekayaan (asset) tanpa telah membuat perjanjian kemitraan yang resmi.
    • Apabila harta bersama (warisan/hibah/wasiat) dapat dibagi, namun para mitra memutuskan untuk tetap memilikinya bersama, maka syirkah Al Milk  tersebut bersifat ikhtiari (sukarela/voluntary).
    • Apabila barang tersebut tidak dapat dibagi-bagi dan mereka terpaksa harus memilikinya bersama, maka syirkah Al Milk tersebut bersifat jabari (tidak sukarela/involuntary atau terpaksa).
    2. Syirkah Al ’uqud (kontrak), yaitu kemitraan yang tercipta dengan kesepakatan dua orang atau lebih untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan tertentu. Setiap mitra dapat berkontribusi 
    dengan modal/modal dan atau kerja, serta berbagi keuntungan dan kerugian. Syirkah jenis ini dapat dianggap sebagai kemitraan yang sesungguhnya, karena para pihak yang bersangkutan secara sukarela berkeinginan untuk membuat suatu kerjasama investasi dan berbagi untung dan risiko. Berbeda dengan syirkah al milk, dalam kerjasama jenis ini setiap mitra dapat bertindak sebagai wakil dari pihak lainnya.

    Syirkah Al’uqud dibagi menjadi:
    • Syirkah Abdan (syirkah fisik)/syirkah a’mal (syirkah kerja)/ syirkah shanaa’i (syirkah para tukang)/ syirkah taqabbul (syirkah penerimaan). Merupakan bentuk syirkah antara dua pihak atau lebih dari kalangan pekerja/profesional dimana mereka sepakat untuk bekerja sama mengerjakan suatu pekerjaan dan berbagi penghasilan yang diterima. Contoh: kerjasama antara para akuntan, dokter, ahli hukum, tukang jahit, tukang bangunan dan lainnya
    • Syirkah Wujuh. Kerjasama antara dua pihak di mana masing-masing pihak sama sekali tidak menyertakan modal. Mereka menjalankan usahanya berdasarkan kepercayaan pihak ketiga. Setiap mitra menyumbangkan nama baik, reputasi, creditworthiness, tanpa menyetorkan modal.
    • Syirkah ‘Inan. Sebuah persekutuan di mana posisi dan komposisi pihak-pihak yang terlibat didalamnya adalah tidak sama, baik dalam hal modal maupun pekerjaan. Setiap mitra bertindak sebagai agen untuk kepentingan pihak lain (mutual agency), karena tindakan yang dilakukan atas nama mitra lain harus berdasarkan pengakuan hukum.
    • Syirkah Mufawwadhah. Sebuah persekutuan di mana posisi dan komposisi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya harus sama, baik dalam hal modal, pekerjaan, agama, keuntungan maupun resiko kerugian. Bentuk syirkah ini mirip seperti firma, namun dalam firma jumlah modal yang disetorkan tidak harus sama.

    F. Dasar Syariah


    1. Al Qur’an


    "Maka mereka berserikat pada sepertiga." (QS.an-Nisa:12)

    "Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat dzalim kepada sebagian yang lain kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh." (QS.Shad:24)

    2. As Sunnah

    Hadits Qudsi dari Abu Hurairah: "Aku (Allah) adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat, sepanjang salah seorang dari keduanya tidak berkhianat terhadap lainnya. Apabila seseorang berkhianat terhadap lainnya maka Aku keluar dari keduanya." (HR.Abu Dawud dan al-Hakim dari Abu Hurairah).


    G. Rukun Musyarakah
    1. Pelaku (para mitra).
    2. Obyek musyarakah.
    3. Persetujuan kedua belah pihak (ijab-qabul).
    4. Nisbah keuntungan.

    H. Ketentuan Syariah

    1. Pelaku
    • Para mitra harus cakap hukum.
    • Setiap mitra dianggap sebagai wakil dari mitra lain dan dari usaha kerjasama.
    2. Objek Musyarakah

    a. Modal
    • Modal yang diberikan harus tunai. 
    • Modal yang diserahkan dapat berupa uang tunai, emas, perak, atau aset perdagangan.  
    • Jika modal dalam bentuk non kas, maka harus menggunakan nilai tunainya. 
    • Modal yang diserahkan oleh setiap mitra harus dicampur.   
    • Dalam kondisi normal, setiap mitra memiliki hak untuk mengelola aset kemitraan.   
    • Mitra tidak boleh meminjam uang atas nama usaha musyarakah, demikian juga meminjamkan uang kepada pihak ketiga.  
    • Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan modal itu untuk kepentingannya sendiri. 
    • Pada prinsipnya dalam musyarakah tidak boleh ada penjaminan modal. 
    • Modal yang ditanamkan tidak boleh digunakan untuk membiayai proyek atau investasi yang dilarang oleh syariah.
    b. Kerja
    • Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah.
    • Tidak dibenarkan bila salah seorang di antara mitra menyatakan tidak ikut serta menangani pekerjaan dalam kemitraan tersebut.
    • Porsi kerja antara satu mitra dengan mitra lainnya tidak harus sama.
    • Setiap mitra bekerja atas nama pribadi atau mewakili mitranya.  
    • Para mitra harus menjalankan usaha sesuai dengan syariah.
    • Seorang mitra yang melaksanakan pekerjaan di luar wilayah tugas yang ia sepakati, berhak mempekerjakan orang lain untuk menangani pekerjaan tersebut.
    • Jika seorang mitra mempekerjakan pekerja lain untuk melaksanakan tugas yang menjadi bagiannya, biaya yang timbul harus ditanggungnya sendiri.
    3. Persetujuan kedua belah pihak (ijab-qabul).

    Akad dapat dilakukan secara lisan atau secara tertulis, melalui korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi modern. Namun bentuk perjanjian musyarakah secara tertulis lebih baik dengan disaksikan oleh saksi-saksi yang memenuhi syarat untuk menghindari persengketaan di kemudian hari.

    4. Nisbah
    • Nisbah diperlukan untuk pembagian keuntungan dan harus disepakati oleh para mitra diawal akad.
    • Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
    • Keuntungan harus dapat dikuantifikasi dan ditentukan dasar perhitungan keuntungan.
    • Keuntungan yang dibagikan tidak boleh menggunakan nilai proyeksi akan tetapi harus menggunakan nilai realisasi keuntungan.
    • Mitra tidak dapat menentukan bagian keuntungannya sendiri dengan menyatakan nilai nominal tertentu.
    • Pada prinsipnya keuntungan milik para mitra namun diperbolehkan mengalokasikan keuntungan untuk pihak ketiga bila disepakati.
    5. Kerugian

    Kerugian akan dibagi secara proporsional sesuai dengan porsi modal dari masing masing mitra.


    I. Berakhirnya akad musyarakah
    1. Jika salah seorang mitra menghentikan akad.
    2. Jika salah seorang mitra meninggal, atau hilang akal. Dalam hal ini mitra yang meninggal atau hilang akal dapat digantikan oleh salah seorang ahli warisnya yang cakap hukum (baligh dan berakal sehat) apabila disetujui oleh semua ahli waris lain dan mitra lainnya.
    3. Jika modal musyarakah hilang/habis.

    J. Penentuan Nisbah
    1. Pembagian keuntungan proporsional sesuai modal. Menurut pendapat ini, keuntungan harus dibagi diantara para mitra secara proporsional sesuai modal yang disetorkan, tanpa memandang apakah jumlah pekerjaan yang dilaksanakan oleh para mitra sama ataupun tidak sama. Apabila salah satu pihak menyetorkan modal lebih besar, maka pihak tersebut akan mendapatkan proporsi laba yang lebih besar.
    2. Pembagian keuntungan tidak proporsional dengan modal. Menurut pendapat ini, dalam penentuan nisbah yang dipertimbangkan bukan hanya modal yang disetorkan, tapi juga tanggung jawab, pengalaman, kompetensi atau waktu kerja yang lebih panjang.

    K. Akuntansi untuk Mitra Aktif/Pasif

    1. Pengakuan Investasi Musyarakah

    Investasi musyarakah diakui pada saat penyerahan kas atau aset nonkas untuk usaha musyarakah.

    2. Pengukuran investasi musyarakah

    Pencatatan ketika mitra aktif mengeluarkan biaya pra akad:
    Dr. Uang Muka Akad          xxx
          Cr. Kas                                      xxx

    Apabila mitra lain sepakat biaya ini dianggap sebagai bagian investasi musyarakah:
    Dr. Investasi musyarakah    xxx
          Cr. Uang muka akad                 xxx

    Apabila mitra lain tidak setuju biaya ini dianggap sebagai bagian investasi musyarakah:
    Dr. Beban Musyarakah        xxx
          Cr. Uang Muka Akad               xxx

    Apabila investasi dalam bentuk kas akan dinilai sebesar jumlah yang diserahkan; dan dicatat:  
     Dr. Investasi Musyarakah - Kas     xxx
           Cr. Kas                                                 xxx

    Pencatatan yang dilakukan jika nilai wajar asset non kas yang diserahkan lebih besar dari nilai buku, maka selisihnya akan dicatat dalam akun selisih penilaian asset musyarakah: 
    Dr. Investasi Musyarakah                             xxx
    Dr. Akumulasi Penyusutan                           xxx
          Cr. Selisih penilaian aset musyarakah                xxx
          Cr. Aset non kas                                                  xxx

    Pencatatan amortisasi selisih penilaian asset musyarakah adalah sebagai berikut: 
    Dr. Selisih penilaian asset musyarakah        xxx
          Cr. Keuntungan                                                  xxx

    Pencatatan yang dilakukan jika nilai wajar asset non kas yang diserahkan lebih kecil dari nilai buku, maka selisihnya dicatat sebagai kerugian: 
    Dr. Investasi Musyarakah             xxx
    Dr. Akumulasi Penyusutan           xxx
    Dr. Kerugian                                 xxx
          Cr. Aset Non Kas                               xxx

    Apabila investasi dalam bentuk aset non-kas dan diakhir akad akan diterima kembali maka atas aset nonkas musyarakah disusutkan berdasarkan nilai wajar tersebut.  
    Dr. Beban Depresiasi                   xxx
          Cr. Akumulasi Depresiasi                  xxx

    Apabila dari investasi musyarakah diperoleh keuntungan.
    Jurnal: 
    Dr. Kas/Piutang                                              xxx 
          Cr. Pendapatan investasi musyarakah                 xxx

    Apabila dari investasi yang dilakukan rugi,
    Jurnal:
    Dr. Kerugian                               xxx
     Cr. Penyisihan Kerugian                       xxx

    Apabila modal investasi yang diserahkan berupa aset non-kas, dan diakhir akad dikembalikan dalam bentuk kas sebesar nilai wajar aset non kas yang disepakati ketika aset tersebut diserahkan. Ketika akad musyarakah berakhir, aset nonkas akan dilikuidasi/dijual terlebih dahulu dan keuntungan atau kerugian dari penjualan aktiva ini (selisih antara nilai buku dengan nilai jual) didistribusikan pada setiap mitra sesuai kesepakatan. 
    Jika untung maka akan dicatat:
    Dr. Piutang                  xxx
          Cr. Pendapatan                 xxx

    Jika rugi, akan dicatat:
    Dr. Kerugian                             xxx
          Cr. Penyisihan Kerugian                xxx

    3. Pencatatan di akhir akad

    Apabila modal investasi yang diserahkan berupa kas.

    Jika tidak ada kerugian. Jurnal:
    Dr. Kas                                         xxx
          Cr. Investasi Musyarakah                  xxx

    Jika ada kerugian. Jurnal:
     Dr. Kas                                       xxx
     Dr. Penyisihan kerugian             xxx
           Cr. Investasi Musyarakah                 xxx

    Apabila modal investasi berupa aset nonkas, dan dikembalikan dalam bentuk aset non kas yang sama pada akhir akad:  
    Jika tidak ada kerugian. Jurnal:
    Dr. Aset non-kas                         xxx
          Cr. Investasi Musyarakah                 xxx

    Jika ada kerugian, maka perusahaan harus menyetorkan uang sebesar nilai kerugian, jurnal: 
     Dr. Penyisihan kerugian            xxx
           Cr. Kas                                             xxx
     Dr. Aset non kas                        xxx
           Cr. Investasi Musyarakah                xxx

    Apabila modal investasi berupa aset nonkas, dan dikembalikan dalam bentuk kas sebesar nilai wajar ketika aset non kas diserahkan.
    Jika tidak ada penyisihan kerugian dan penjualan  aset nonkas menghasilkan keuntungan:
    Dr. Kas                                       xxx
          Cr. Investasi Musyarakah                 xxx
          Cr. Piutang                                        xxx

    Jika ada penyisihan kerugian dan penjualan aset nonkas menghasilkan keuntungan: 
    Dr. Kas                                       xxx
    Dr Penyisihan Kerugian             xxx
         Cr. Investasi Musyarakah                  xxx
         Cr. Piutang                                         xxx

    4. Penyajian

    Mitra pasif menyajikan hal-hal sebagai berikut yang terkait dengan usaha musyarakah dalam laporan keuangan:
    • Kas atau aset nonkas yang disisihkan oleh mitra aktif disajikan sebagai investasi musyarakah.
    • Keuntungan tangguhan dari selisih penilaian aset nonkas yang diserahkan pada nilai wajar disajikan sebagai pos lawan (contra account) dari investasi musyarakah.

    L. Akuntansi untuk Pengelola Dana


    1. Pengukuran investasi musyarakah:

    Dr. Uang muka akad             xxx
          Cr. Kas                                         xxx

    2. Biaya yang terjadi akibat akad musyarakah (misalnya, biaya studi kelayakan) tidak dapat diakui sebagai bagian investasi musyarakah kecuali ada persetujuan dari seluruh mitra.

    Apabila mitra lain sepakat biaya ini dianggap sebagai bagian investasi musyarakah
    Dr. Investasi musyarakah     xxx
          Cr. Uang muka akad                    xxx

    Apabila mitra lain tidak setuju biaya ini dianggap sebagai bagian investasi musyarakah
    Dr. Beban                              xxx
          Cr. Uang muka akad                    xxx

    Penerimaan dana musyarakah dari mitra pasif atau mitra aktif diakui sebagai dana syirkah temporer sebesar:
    (a) Jumlah yang diterima untuk penerimaan dalam bentuk kas.
    Jurnal:
    Dr. Kas                                         xxx
          Cr. Dana syirkah Temporer               xxx

    Dana syirkah temporer harus dipisahkan (dalam bentuk sub ledger) antara dana yang berasal dari mitra aktif atau mitra  pasif.

    (b) Nilai wajar untuk penerimaan dalam bentuk aset nonkas.
    Jurnal:
    Dr. Aset non-kas                           xxx
          Cr. Dana Syirkah Temporer              xxx

    Apabila diakhir akad aset nonkas tidak dikembalikan maka yang mencatat beban depresiasi adalah usaha musyarakah atas dasar nilai wajar dan disusutkan selama masa akad atau selama umur ekonomis. Sedangkan jika dikembalikan, yang mencatat beban depresiasi adalah mitra yang menyerahkan aset nonkas sebagai modal investasinya.
    Dr. Beban Depresiasi                   xxx
          Cr. Akumulasi Depresiasi                 xxx

    Sebelum pembagian laba, pengelola akan mengakui pendapatan dan beban dimana dicatat dengan cara yang tidak berbeda dengan akuntansi konvensional.
    Jurnal penutup:
    Dr. Pendapatan                                                xxx
          Cr. Beban                                                   xxx
          Cr. Pendapatan yang belum dibagikan                   xxx

    Pencatatan untuk pembagian laba untuk mitra aktif/pasif:
    Dr. Beban bagi hasil                    xxx
          Cr. Utang                                            xxx

    Pada saat pembagian laba tersebut dibagikan:
     Dr. Utang                                    xxx
           Cr. Kas                                               xxx

    Pada akhir periode, akun pendapatan yang belum dibagikan dan beban bagi hasil ditutup.
    Jurnal:
    Dr. Pendapatan belum dibagihasilkan       xxx
          Cr. Beban bagi hasil                                        xxx

    Jika pengelola mengakui adanya kerugian.
    Jurnal penutup:
    Dr. Pendapatan                                           xxx
    Dr. Kerugian yang belum dialokasikan      xxx
          Cr. Beban                                                          xxx

    Untuk pengakuan pendisitribusian kerugian.
    Jurnal:
    Dr. Penyisihan kerugian                                     xxx
          Cr. Kerugian yang belum dialokasikan                    xxx

    3. Pencatatan yang dilakukan pada akhir akad:

    Apabila dana investasi yang diserahkan kas.
    Jurnal:
    Dr. Dana Syirkah Temporer               xxx
          Cr. Kas                                         xxx
          Cr. Penyisihan Kerugian                           xxx

    Apabila dana investasi yang diserahkan berupa aset non-kas, dan diakhir akad dikembalikan.
    Jurnal:
    Dr. Dana Syirkah Temporer          xxx
          Cr. Aset nonkas                                    xxx

    Jika aset harus dikembalikan, dan terjadi kerugian maka harus menyerahkan kas untuk menutup kerugian.
    Jurnal:
    Dr. Kas                                          xxx
          Cr. Penyisihan Kerugian                      xxx

    Apabila modal investasi yang diserahkan berupa aset non-kas, dan diakhir akad dikembalikan dalam bentuk kas, maka aset nonkas harus dilikuidasi/dijual terlebih dahulu dan keuntungan atau kerugian dari penjualan aktiva didistribusikan pada setiap mitra sesuai kesepakatan.
    Jika penjualan menghasilkan keuntungan:
     Dr. Kas                                        xxx
     Dr. Akumulasi Depresiasi           xxx
           Cr. Aset non kas                                  xxx
           Cr. Keuntungan                                   xxx
     Dr. Keuntungan                           xxx
           Cr. Utang                                             xxx

     Jika penjualan tersebut menghasilkan kerugian:
     Dr. Kas                                        xxx
     Dr. Akumulasi Depresiasi           xxx
     Dr. Kerugian                                xxx
           Cr. Aset non kas                                  xxx
     Dr. Piutang                                   xxx
           Cr. Kerugian                                        xxx

    Ketika Pelunasan, asumsi tidak ada penyisihan kerugian dan dari penjualan aset non-kas mengalami  kerugian:
     Dr. Dana Syirkah Temporer        xxx
           Cr. Kas                                               xxx
           Cr. Piutang                                         xxx

    Ketika Pelunasan, asumsi ada penyisihan kerugian dan dari penjualan aset non-kas mengalami kerugian:
     Dr. Dana Syirkah Temporer        xxx
           Cr. Kas/Kewajiban                            xxx
           Cr. Piutang                                         xxx
           Cr. Penyisihan Kerugian                    xxx

    4. Bagian mitra aktif atas investasi musyarakah menurun (dengan pengembalian modal mitra secara bertahap) dinilai sebesar jumlah kas atau nilai wajar aset nonkas yang diserahkan untuk usaha musyarakah pada awal akad ditambah dengan jumlah modal syirkah temporer yang telah dikembalikan kepada mitra pasif, dan dikurangi kerugian (jika ada).

    5. Penyajian

    Pengelola menyajikan hal-hal sebagai berikut yang terkait dengan usaha musyarakah dalam laporan keuangan:

    • Kas atau aset nonkas yang disisihkan oleh mitra aktif dan yang diterima dari mitra pasif disajikan sebagai investasi musyarakah.
    • Aset musyarakah yang diterima dari mitra pasif disajikan sebagai unsur dana syirkah temporer.
    • Selisih penilaian aset musyarakah, disajikan sebagai unsur  ekuitas. 

    6. Pengungkapan

    Mitra mengungkapkan hal-hal yang terkait transaksi musyarakah, tetapi tidak terbatas, pada:

    • Isi kesepakatan utama usaha musyarakah, seperti porsi dana, pembagian hasil usaha,aktivitas usaha musyarakah, dan lain-lain.
    • pengelola usaha, jika tidak ada mitra aktif. 
    • Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syari’ah.

    4 komentar: